Bila anda seorang perempuan, bukankah creambath,menicure+pedicure,spa merupakan salah satu kebutuhan Anda untuk kecantikan dan perasaan puas? Karena setiap manusia,baik pria dan perempuan,dewasa maupun anak-anak, memiliki keinginan untuk memanjakan dirinya dan bukankah Anda ingin memanjakan satu bagian tubuh terpenting anda agar terlihat lebih cantik tanpa menguras rekening tabungan anda, yaa benar, Anda dapat memanjakan gigi anda dan membuat senyum Anda lebih cemerlang dan cantik dengan Teeth Whitening (sekarang tidak lagi disebut bleaching yaa, kan gigi Anda bukan pakaian:p)
Dengan paket perlengkapan Teeth whitening yang dibawa pulang dan dikerjakan sendiri oleh Anda sehingga dapat disesuaikan dengan waktu dan kebutuhan, Proses pemutihan gigi/teeth whitening menjadi salah satu perawatan Kosmetik kedokteran gigi yang populer. Karena Gigi Anda akan terlihat lebih putih dan cerah hanya dalam 2-4 minggu dengan perawatan yang dilakukan sendiri atau disebut Home Whitening/ supervised home-tooth Whitening.
Pertanyaan yang sering diajukan tentang prosedur dan bahan ini adalah, apakah tidak berbahaya melakukan home-tooth whitening?
Prosedur perawatan Teeth whitening AMAN dilakukan, bahkan menurut penelitian yang dilakukan di Amerika, minuman bersoda/berkarbonat anda lebih berbahaya merusak gigi Anda dibandingkan bahan dan proses yang dilakukan sesuai instruksi dan prosedur:D
Bahan yang digunakan adalah Carbamide peroxide 10% (atau setara dgn 3,3% peroxide) ditambah dnegan bahan2 lain yang membantu mengurangi rasa sensitif, memperkuat ambang rasa sakit , proses yang terjadi pada gigi Anda adalah proses ukuran nanometer, dan terjadi dalam dimensi molekuler, sehingga anggapan bahwa prosedur Teeth whitening terlalu mengikis gigi Anda, kini tidak lagi relevan. Memang benar terjadi proses pengikisan namun seperti tadi dikatakan, bahkan minuman bersoda anda mengikis gigi lebih banyak lagi:)
Berapa lamakah hasil teeth whitening ini dapat bertahan? Selama Anda melakukan perawatan dengan rutin, gigi yang terlihat lebih putih ini bertahan selama Anda inginkan , bukankah anda mandi 1 hari 2 kali? demikian juga dengan perawatan ini.. setelah Anda mendapatkan hasil yang diinginkan dengan 2-5 minggu perawatan, anda akan membutuhkan perawatan per bulan atau 3 bulan sekali yang tentu saja Anda lakukan sendiri di rumah:) jadi bukankah memanjakan gigi Anda dan membuatnya menjadi cantik mudah dilakukan?
Dan jika Anda menginginkan hasil yang lebih cepat, Anda dapat meminta dokter gigi Anda perawatan yang disebut In Office Whitening, yang dilakukan langsung oleh dokter gigi di tempat praktek... dengan durasi waktu hanya 1-2 jam.. anda keluar dengan gigi yang lebih putih:) namun selalu dianjurkan untuk melanjutkan perawatan sendiri dengan home whitening tiap minggu.
Tersenyumlah dan ceriakan hari Anda dan orang terkasih dengan memanjakan Gigi Cemerlang Anda:)
BECAUSE YOUR SMILE IS PRECIOUS. MAKE YOUR DREAM COMES TRUE..YOUR DESIRE OF BEAUTIFUL AND HEALTY SMILE MEETS COMFORTABLE AND AFFORDABLE DENTAL TREATMENT. TERSENYUMLAH KARENA SENYUM INDAH ANDA SUNGGUH BERHARGA DAN LOVESMILEDENTALCARE PEDULI MEWUJUDKANNYA
WELCOME TO YOUR AFFORDABLE & CONVENIENT DENTAL HEALTH AND COSMETIC DENTISTRY EXPERIENCES
Our Dentists' Network /Jaringan Love Smile Dental Care melayani Kesehatan Gigi dan Mulut bagi Anda:
1. Love Smile Dental Care, JL.Karya Raya 10b,Daan Mogot,Jakarta Barat (Apotik Prima Indah, Seberang Indosiar), ph:021-27383983 08159143395
2. LOVE SMILE DENTAL CARE jl. Boulevar Raya RA27, Kelapa Gading,Jakarta Utara (APOTIK ALUR Century, Kelapa Gading) on 1st August 2011.
3. Citiklinik, jl. Pangkalan Jati raya 1 no.1a, Pondok Labu Jakarta Selatan. Dental and Beauty care. (belakang univ UPN Veteran) 0217664490/081807080706
YOU DESERVE THE BEST DENTAL HEALTH SERVICE FROM LOVE SMILE DENTAL CARE.
YOUR SMILE BRIGHTEN OTHER'S DAY.. JUST SMILE because YOUR SMILE IS PRECIOUS
Monday-Sunday 16.00-21.00
Get your information NOW: 021-27383983 08159143395
Our dental Products: http://www.facebook.com/photo.php?pid=122453&id=100001391922931&saved#!/album.php?aid=16227&id=100001391922931&ref=mf
1. Love Smile Dental Care, JL.Karya Raya 10b,Daan Mogot,Jakarta Barat (Apotik Prima Indah, Seberang Indosiar), ph:021-27383983 08159143395
2. LOVE SMILE DENTAL CARE jl. Boulevar Raya RA27, Kelapa Gading,Jakarta Utara (APOTIK ALUR Century, Kelapa Gading) on 1st August 2011.
3. Citiklinik, jl. Pangkalan Jati raya 1 no.1a, Pondok Labu Jakarta Selatan. Dental and Beauty care. (belakang univ UPN Veteran) 0217664490/081807080706
twitter: @Citiklinik
YOU DESERVE THE BEST DENTAL HEALTH SERVICE FROM LOVE SMILE DENTAL CARE.
YOUR SMILE BRIGHTEN OTHER'S DAY.. JUST SMILE because YOUR SMILE IS PRECIOUS
Monday-Sunday 16.00-21.00
Get your information NOW: 021-27383983 08159143395
Our dental Products: http://www.facebook.com/photo.php?pid=122453&id=100001391922931&saved#!/album.php?aid=16227&id=100001391922931&ref=mf
Your Comments are Diamond for us:D
Wednesday, July 21, 2010
Siapa Takut Menambal? FILLING & FISSURE SEALANT
Apakah gigi Saya butuh ditambal?
Jika Anda menyukai makanan manis (sweet foods) dan tidak melakukan Perawatan Kesehatan Gigi yang baik dan benar, siapkan diri jika dokter gigi Anda akan mengatakan: 'Sepertinya ada gigi yang harus ditambal'
Sepertinya jika mendengar kalimat tersebut, ada perasaan 'tidak terhormat' (:p) karena seperti mendengar kalimat "Anda sudah berapa lama tidak mandi?" (lebay sedikit:D) dan ternyata Anda tidak perlu merasa demikian, karena penelitian yang dilakukan oleh UI mengatakan 90,05% penduduk Indonesia mengalami gigi berlubang, dan bahkan menurut saya 98% manusia yang memiliki gigi dan belum pernah dirawat pasti memerlukan tambalan:)
Anda tidak perlu khawatir sama sekali dengan fakta tersebut, karena saat ini, berkat kemajuan teknologi dan tehnik, gigi berlubang dapat diperbaiki dan diperindah kembali dengan tambalan sewarna gigi/ tooth-colored yang akan terlihat alami/natural seperti gigi dan membuat Anda kembali percaya diri menghadapi dunia:) bahkan kekuatan bahan tambalan yang sering disebut Komposit ini terus berkembang dan tidak jauh dari bahan almagam, yang telah terbuti tidak aman bagi kesehatan.
Dan bagaimanakah dengan gigi-gigi buah hati anda? atau bagaimana jika gigi saya belum berlubang tapi sudah mulai terasa ada celah kecil?
Pencegahan selalu lebih baik daripada Mengobati. Mungkin Dokter gigi Anda pernah mengatakan tentang sealant/fissure sealant (saya sering menganjurkannya pada pasien yang datang:D), inilah solusi terbaik bagi pertanyaan tersebut.
Dengan biaya yang tentunya lebih ekonomis dibandingkan penambalan biasa, menggunakan bahan komposit, dan tentu saja memberi jaminan bahwa daerah tersebut akan bebas dari karies selama pemeliharaan dilakukan dengan baik oleh Anda, Fissure Sealant sangat (sangat) dianjurkan untuk gigi-gigi dewasa/permanen pada anak-anak, gigi permanen Anda dan bahkan gigi susu.
Seperti jika Anda melihat ada rembesan air di pipa/tembok, maka sebelum pipa itu pecah atu bertambah besar rusaknya, anda pasti akan mencari kebocorannya dan segera menutup/seal daerah tersebut, konsep fissure sealant ini mirip dengan itu, dengan membuang hanya sedikit sekali (2 mm) daerah permukaan oklusal (daerah parit dan lekukan gigi, yang biasa Anda gunakan untuk mengunyah), kemudian menutupnya dengan komposit, maka potensi untuk gigi menjadi berlubang telah dieliminasi di daerah tersebut. mengapa? karena bakteri tidak 'memakan' komposit heheehhe.. mereka hanya suka jaringan hidup:)
Tujuan dariPeriksalah 6 bulan sekali ke dokter gigi bukan merupakan kewajiban, namun untuk memeriksakan apakah hal-hal di atas diperlukan untuk mencegah kerusakan yang lebih paah dan tentu saja akan menyebabkan Anda mengeluarkan waktu dan biaya yang lebih besar lagi untuk perawatannya. Jadi siapa Takut menambal?
Jika Anda menyukai makanan manis (sweet foods) dan tidak melakukan Perawatan Kesehatan Gigi yang baik dan benar, siapkan diri jika dokter gigi Anda akan mengatakan: 'Sepertinya ada gigi yang harus ditambal'
Sepertinya jika mendengar kalimat tersebut, ada perasaan 'tidak terhormat' (:p) karena seperti mendengar kalimat "Anda sudah berapa lama tidak mandi?" (lebay sedikit:D) dan ternyata Anda tidak perlu merasa demikian, karena penelitian yang dilakukan oleh UI mengatakan 90,05% penduduk Indonesia mengalami gigi berlubang, dan bahkan menurut saya 98% manusia yang memiliki gigi dan belum pernah dirawat pasti memerlukan tambalan:)
Anda tidak perlu khawatir sama sekali dengan fakta tersebut, karena saat ini, berkat kemajuan teknologi dan tehnik, gigi berlubang dapat diperbaiki dan diperindah kembali dengan tambalan sewarna gigi/ tooth-colored yang akan terlihat alami/natural seperti gigi dan membuat Anda kembali percaya diri menghadapi dunia:) bahkan kekuatan bahan tambalan yang sering disebut Komposit ini terus berkembang dan tidak jauh dari bahan almagam, yang telah terbuti tidak aman bagi kesehatan.
Dan bagaimanakah dengan gigi-gigi buah hati anda? atau bagaimana jika gigi saya belum berlubang tapi sudah mulai terasa ada celah kecil?
Pencegahan selalu lebih baik daripada Mengobati. Mungkin Dokter gigi Anda pernah mengatakan tentang sealant/fissure sealant (saya sering menganjurkannya pada pasien yang datang:D), inilah solusi terbaik bagi pertanyaan tersebut.
Dengan biaya yang tentunya lebih ekonomis dibandingkan penambalan biasa, menggunakan bahan komposit, dan tentu saja memberi jaminan bahwa daerah tersebut akan bebas dari karies selama pemeliharaan dilakukan dengan baik oleh Anda, Fissure Sealant sangat (sangat) dianjurkan untuk gigi-gigi dewasa/permanen pada anak-anak, gigi permanen Anda dan bahkan gigi susu.
Seperti jika Anda melihat ada rembesan air di pipa/tembok, maka sebelum pipa itu pecah atu bertambah besar rusaknya, anda pasti akan mencari kebocorannya dan segera menutup/seal daerah tersebut, konsep fissure sealant ini mirip dengan itu, dengan membuang hanya sedikit sekali (2 mm) daerah permukaan oklusal (daerah parit dan lekukan gigi, yang biasa Anda gunakan untuk mengunyah), kemudian menutupnya dengan komposit, maka potensi untuk gigi menjadi berlubang telah dieliminasi di daerah tersebut. mengapa? karena bakteri tidak 'memakan' komposit heheehhe.. mereka hanya suka jaringan hidup:)
Tujuan dariPeriksalah 6 bulan sekali ke dokter gigi bukan merupakan kewajiban, namun untuk memeriksakan apakah hal-hal di atas diperlukan untuk mencegah kerusakan yang lebih paah dan tentu saja akan menyebabkan Anda mengeluarkan waktu dan biaya yang lebih besar lagi untuk perawatannya. Jadi siapa Takut menambal?
Wednesday, July 7, 2010
We're going to OPEN at JEMBATAN BESI
Love Smile Dental Care AKAN BUKA di Apotik Jembatan Besi (Belakang Season City),jalan Mesjid Al Jihad no 8a/jembatan Besi VIII no 8.
soft Launching AGUSTUS 2010
Dapatkan Harga Paket Khusus yang terjangkau dengan fasilitas lengkap:D
Your Convenient and Affordable Family Dental Care, when your Need of Healthy Smile meets Beauty
Terimakasih untuk Kepercayaan Anda kepada kami:)
soft Launching AGUSTUS 2010
Dapatkan Harga Paket Khusus yang terjangkau dengan fasilitas lengkap:D
Your Convenient and Affordable Family Dental Care, when your Need of Healthy Smile meets Beauty
Terimakasih untuk Kepercayaan Anda kepada kami:)
Thursday, May 6, 2010
Pemeliharaan gigi Anda vs Jaguar
Pemeliharaan kesehatan gigi sama pentingnya dengan perawatan giginya sendiri, pemerilaharan merupakan kunci terjaganya keberhasilan perawatan, hal ini sering hanya dipandang sebelah mata dan dianggap hal remeh-temeh yang tidak penting. bangsa Indonesia (katanya)terkenal sebagai bangsa yang rajin membuat sesuatu namun malas memelihara.
Lihat saja halte busway yang dibuat rapi, bagus, sekarang sebagian halte yang tidak dipakai sudah tinggal rangkanya:p lihatlah monas, dari dalam, lift-lift seringkali rusak dan di beberapa tempat ada coretan2 (mungkin sudah dihapus ya sekarang?)
Alat-alat mutakhir yang harganya mahal sering mengganggur, tidak berfungsi lagi. Banyak uang yang dikeluarkan untuk membangun namun menjadi pemborosan dasa masyarakat karena niat baik yang menjadi motivasi pembangunan tidak disertai dengan niat pemeliharaan yang terbaik juga.
Demikian juga perawatan gigi, Anda penting sekali untuk mengetahui cara pemeliharaan setelah perawatan, berbagai ragam perawatan dari penambalan, pencabutan, pembuatan gigi tiruan, pemutihan, pemasangan orthodontic appliance, perawatan saluran akar,dsb yang dilakukan dokter gigi umum ataupun spesialis dan rentang harga yang murah sampai yang mahal sekalipun, semuanya membutuhkan perawatan, Apakah Anda menyadari sebagai penerima jasa kesehatan perlu memahami pentingnya pemeliharaan setelah perawatan ini?
Beberapa saya menemukan pasien dengan tambalan yang sangat bagus, estetis, tapi kebersihan mulutnya menyedihkan, plak dan kalkulus ikut meramaikan rongga mulutnya, bahkan gigi dengan restorasi kualitas nomor satu itupun tidak luput dari plak dan kalkulus. Atau pada pasien prostodonti, dokter gigi telah membuat protase yang sangat sesuai untuk pasiennya, tetapi setelah beberapa bulan, mengapa di landasan geligi tiruannya menempel plak berwarna? Lalu pada pasien ortodonti, setelah perawatan, giginya memang menjadi rata, tapi sering gusinya menjadi gingivitis berat, pada pasien dengan implan gigi, yang harganya bisa mencapai US$2500 atau per gigi, ditemukan faktor resiko akibat plak dan kalkulus. Tanpa adanya pemahaman dan pengertian Anda untuk memelihara dan proaktif menjaga perawatan gigi yang telah Anda lakukan di dokter gigi, semuanya dapat menjadi gagal.
Seringkali Anda akan bertanya tentang perawatan yang akan dokter gigi lakukan bukan? beberapa contoh: " berapa lama tambalan ini akan bertahan?" "berapa lama restorasi mahkota,bridge, skeling akan bertahan?" "berapa lama pemutihan gigi, hasil perawtan ortho/behel bertahan?"
Semua pertanyaan itu hanya membutuhkan satu jawaban, " berapa lama Anda menginginkannya perawatan itu bertahan di gigi? selama itu lah perawatan bertahan" maksud saya menjawab ini adalah seberapa besar niat, harapan, dan usaha Anda untuk mau memelihara hasil perawatan dengan sebaik-baiknya. "seberapa seringkah Anda mandi,sikat gigi, minum air dalam satu hari untuk menjaga diri tetap bersih,sehat?" saya sering bertanya, " untuk itulah pemeliharaan setelah perawatan gigi dan mulut penting sekali, gigi asli yang diberikan Tuahan saja bisa rusak, apalagi gigi yang dibuat manusia:D"
Sebenarnya, pemeliharaan kebersihan mulut merupakan pekerjaan mudah. Sama seperti kita memelihara sesuatu agar tetap bersih, mandi sehari dua kali, sikat gigi, lantai kotor harus disapu, piring kotor harus dicuci. Segala usaha pengendalian plak, baik itu secara mekanis, kemis, maupun kombinasinya, merupakan 'jargon' dokter gigi untuk disampaikan ke pasien setiap kunjungan, berkali-kali, dan tolonglah jangan bosan dengan anjuran ini, karena sungguh, kalau Anda ingin gigi Anda sehat dan kuat lakukanlah pencegahan dan kemudian pemeliharaan dengan baik. Memang membutuhkan usaha terus menerus, namun hasilnya manis, Anda dapat membersihkan rongga mulut sendiri dengan baik setelah perawatan pencegahan seperti skeling, aplikasi fluor, fissure sealant (menutup fisure yang 99% pasti berpotensi karies),dan perawtan kuratif/rehabilitatif seperti protesa,tambalan, perawatan orthodontic. Dengan kemampuan itu, diharapkan hasil perawatan dokter gigi dapat bertahan lama.
Menyikat gigi yang benar (bukan lama) dan dengan waktu yang tepat (bukan hanya sering) merupakan hal yang penting diketahui untuk pemeliharaan ini, karena dengan menyikat gigi yang benar dan baik, Anda secara proaktif membersihkan gigi sendiri dan tentunya memberi keuntungan jangka panjang dari segi finansial, karena menghemat untuk perawatan gigi di dokter gigi. Tanyakanlah cara menyikat gigi yang baik dan benar jika dokter gigi secara tidak sengaja lupa menjelaskan dan cobalah lakukan anjuran menyikat gigi minimal 2x sehari setelah sarapan dan sebelum tidur dengan gerakan yang benar, karena itulah deposito Anda untuk tetap memiliki gigi-gigi asli untuk mengunyah pada usia 57thn,61thn:D
Karena tidak ada gunanya perawatan semahal apapun, secanggih apapun jika tanpa pemeliharaan dari Anda sebagai pasien, penyakit yang ada dapat muncul kembali, dapat merusak tambalan sewarna gigi, infeksi gusi, untuk perawatan whitening, perlu untuk perawatan 2-3 bulan sekali untuk mempertahankan derajat warna, untuk perawatan behel, perlu untuk memakai retensi dan menjaga kebersihan mulut,dst.
Mungkin Anda merasa, "ah, dokter gigi nya cerewet nih" hehehehe kami hanya mencoba agar perawtan yang kami lakukan, apapun itu, dapat bertahan selama mungkin, karena kami hanya manusia, karena itu perlu kerjasama Anda untuk menjaganya juga bukan?:)
Pemeliharaan gigi dan mulut selama proses dan setelah perawatan merupakan kunci, seklai lagi kucing, eh kunci utama untuk pertanyaan Anda (dan sesungguhnya pertanyaan sekaligus jawaban dokter gigi) "seberapa lama perawtan ini bisa bertahan", seperti juga Anda membeli mobil Mercedes benz seri cls, ataqu jaguar panthom (ada gak?:p), Anda pasti akan merawat, mencucinya, service mesin,ganti oli,asuransi,dst secara periodik, demikianlah kalau Anda menginginkan Gigi Anda tetap menarik dan diri Anda selalu menarik saat tersenyum:D
Let's Love each other, Love your Smile,Love smiling:D
Lihat saja halte busway yang dibuat rapi, bagus, sekarang sebagian halte yang tidak dipakai sudah tinggal rangkanya:p lihatlah monas, dari dalam, lift-lift seringkali rusak dan di beberapa tempat ada coretan2 (mungkin sudah dihapus ya sekarang?)
Alat-alat mutakhir yang harganya mahal sering mengganggur, tidak berfungsi lagi. Banyak uang yang dikeluarkan untuk membangun namun menjadi pemborosan dasa masyarakat karena niat baik yang menjadi motivasi pembangunan tidak disertai dengan niat pemeliharaan yang terbaik juga.
Demikian juga perawatan gigi, Anda penting sekali untuk mengetahui cara pemeliharaan setelah perawatan, berbagai ragam perawatan dari penambalan, pencabutan, pembuatan gigi tiruan, pemutihan, pemasangan orthodontic appliance, perawatan saluran akar,dsb yang dilakukan dokter gigi umum ataupun spesialis dan rentang harga yang murah sampai yang mahal sekalipun, semuanya membutuhkan perawatan, Apakah Anda menyadari sebagai penerima jasa kesehatan perlu memahami pentingnya pemeliharaan setelah perawatan ini?
Beberapa saya menemukan pasien dengan tambalan yang sangat bagus, estetis, tapi kebersihan mulutnya menyedihkan, plak dan kalkulus ikut meramaikan rongga mulutnya, bahkan gigi dengan restorasi kualitas nomor satu itupun tidak luput dari plak dan kalkulus. Atau pada pasien prostodonti, dokter gigi telah membuat protase yang sangat sesuai untuk pasiennya, tetapi setelah beberapa bulan, mengapa di landasan geligi tiruannya menempel plak berwarna? Lalu pada pasien ortodonti, setelah perawatan, giginya memang menjadi rata, tapi sering gusinya menjadi gingivitis berat, pada pasien dengan implan gigi, yang harganya bisa mencapai US$2500 atau per gigi, ditemukan faktor resiko akibat plak dan kalkulus. Tanpa adanya pemahaman dan pengertian Anda untuk memelihara dan proaktif menjaga perawatan gigi yang telah Anda lakukan di dokter gigi, semuanya dapat menjadi gagal.
Seringkali Anda akan bertanya tentang perawatan yang akan dokter gigi lakukan bukan? beberapa contoh: " berapa lama tambalan ini akan bertahan?" "berapa lama restorasi mahkota,bridge, skeling akan bertahan?" "berapa lama pemutihan gigi, hasil perawtan ortho/behel bertahan?"
Semua pertanyaan itu hanya membutuhkan satu jawaban, " berapa lama Anda menginginkannya perawatan itu bertahan di gigi? selama itu lah perawatan bertahan" maksud saya menjawab ini adalah seberapa besar niat, harapan, dan usaha Anda untuk mau memelihara hasil perawatan dengan sebaik-baiknya. "seberapa seringkah Anda mandi,sikat gigi, minum air dalam satu hari untuk menjaga diri tetap bersih,sehat?" saya sering bertanya, " untuk itulah pemeliharaan setelah perawatan gigi dan mulut penting sekali, gigi asli yang diberikan Tuahan saja bisa rusak, apalagi gigi yang dibuat manusia:D"
Sebenarnya, pemeliharaan kebersihan mulut merupakan pekerjaan mudah. Sama seperti kita memelihara sesuatu agar tetap bersih, mandi sehari dua kali, sikat gigi, lantai kotor harus disapu, piring kotor harus dicuci. Segala usaha pengendalian plak, baik itu secara mekanis, kemis, maupun kombinasinya, merupakan 'jargon' dokter gigi untuk disampaikan ke pasien setiap kunjungan, berkali-kali, dan tolonglah jangan bosan dengan anjuran ini, karena sungguh, kalau Anda ingin gigi Anda sehat dan kuat lakukanlah pencegahan dan kemudian pemeliharaan dengan baik. Memang membutuhkan usaha terus menerus, namun hasilnya manis, Anda dapat membersihkan rongga mulut sendiri dengan baik setelah perawatan pencegahan seperti skeling, aplikasi fluor, fissure sealant (menutup fisure yang 99% pasti berpotensi karies),dan perawtan kuratif/rehabilitatif seperti protesa,tambalan, perawatan orthodontic. Dengan kemampuan itu, diharapkan hasil perawatan dokter gigi dapat bertahan lama.
Menyikat gigi yang benar (bukan lama) dan dengan waktu yang tepat (bukan hanya sering) merupakan hal yang penting diketahui untuk pemeliharaan ini, karena dengan menyikat gigi yang benar dan baik, Anda secara proaktif membersihkan gigi sendiri dan tentunya memberi keuntungan jangka panjang dari segi finansial, karena menghemat untuk perawatan gigi di dokter gigi. Tanyakanlah cara menyikat gigi yang baik dan benar jika dokter gigi secara tidak sengaja lupa menjelaskan dan cobalah lakukan anjuran menyikat gigi minimal 2x sehari setelah sarapan dan sebelum tidur dengan gerakan yang benar, karena itulah deposito Anda untuk tetap memiliki gigi-gigi asli untuk mengunyah pada usia 57thn,61thn:D
Karena tidak ada gunanya perawatan semahal apapun, secanggih apapun jika tanpa pemeliharaan dari Anda sebagai pasien, penyakit yang ada dapat muncul kembali, dapat merusak tambalan sewarna gigi, infeksi gusi, untuk perawatan whitening, perlu untuk perawatan 2-3 bulan sekali untuk mempertahankan derajat warna, untuk perawatan behel, perlu untuk memakai retensi dan menjaga kebersihan mulut,dst.
Mungkin Anda merasa, "ah, dokter gigi nya cerewet nih" hehehehe kami hanya mencoba agar perawtan yang kami lakukan, apapun itu, dapat bertahan selama mungkin, karena kami hanya manusia, karena itu perlu kerjasama Anda untuk menjaganya juga bukan?:)
Pemeliharaan gigi dan mulut selama proses dan setelah perawatan merupakan kunci, seklai lagi kucing, eh kunci utama untuk pertanyaan Anda (dan sesungguhnya pertanyaan sekaligus jawaban dokter gigi) "seberapa lama perawtan ini bisa bertahan", seperti juga Anda membeli mobil Mercedes benz seri cls, ataqu jaguar panthom (ada gak?:p), Anda pasti akan merawat, mencucinya, service mesin,ganti oli,asuransi,dst secara periodik, demikianlah kalau Anda menginginkan Gigi Anda tetap menarik dan diri Anda selalu menarik saat tersenyum:D
Let's Love each other, Love your Smile,Love smiling:D
Friday, April 30, 2010
Dokter Gigi Lokal vs dokter gigi Luar negeri
Beberapa teman sejawat mungkin sudah mengetahui bahwa tidak lama lagi mengikuti era globalisasi, dokter gigi dari negara2 ASEAN lain akan berdatangan ke Indonesia, kenapa dan apa dasar hukumnya?Saya akan mencoba mengungkapkan informasi tentang ini:)
Tahun 2009 merupakan momen bersejarah di banyak bidang kehidupan, terutama bagi bangsa-bangsa ASEAN, seperti negara-negara regional lainnya yang mulai menyadari pentingnya kerjasama dan menyatukan misi,visi bahkan persepsi, maka ASEAN mulai meresmikan berjalannya C-AFTA.
Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu bersama dengan mentreri ekonomi dari seluruh negara ASEAN menandatangani MRA (Mutual Recognition Arrangement) (NB: tolong jangan tanya artinya, saya juga ngga mengerti sekali), yang berlaku mulai 1 Januari 2010. Intinya ada 3 kesepakatan kerjasama saling menguntungkan ini yaitu: MRA Framework on Accountancy Services, MRA on Medical Practitioners, MRA on Dental Practitioners, sebelumnya ada MRA on Engineering services (2005),nursing services (2006), Architectural services,surveying services(2007). Kalau yang membaca surat kabar baru2 ini, Negara-negara ASEAN sudah menjalankan slah satu dari 3 kesepakatan terbaru, yaitu barang2 ekspor/impor yang sudah dinyatakan 'luulus' satu negara ASEAN, artinya lulus di negara2 ASEAN lainnya.
Intinya MRA (mutual Recognition Arrangement) ini kesepakatan saling pengakuan terhadap produk,jasa tertentu anatara dua atau beberapa negara untuk mempermudah kegiatan perdagangan,kualitas pendidikan, profesional,dst. sehingga negara dapa memperoleh pengurangan biaya (pengecekan kualitas, pendidikan,dsb), kepastian akses pasar, peningkatan daya saing,dst)
Nah, apakah implikasinya bagi dokter gigi (dan dokter umum)? Mungkin yang bagi belum menyadari, itu artinya dokter/dokter gigi dari satu negara ASEAN dapat berperan menjadi praktisi di setiap negara ASEAN lain yang bekerjasama. memang ada syarat2nya seperti harus mendafgtarkan diri pada Proffesional Dental Regulatory Autority, Mengikuti program pengembangan keprofesian,dst., setelah itu dokter gigi dapat berpraktek paling lama 5 tahun di negara lain.
Sebenarnya saya bertanya-tanya, berapa persen kah dari semua profesional medis yang setuju dengan bentuk kerjasama yang 'mengasyikkan' ini?
Sebelumnya saya telah menulis artikel tidak resmi yang mengatakan, bahwa era globalisasi, AFTA jelas akan berpengaruh terhadap kegiatan profesional medis, dan saya mengatakan mungkin dalam 2 tahun, ternyata tidak sampai 1 tahun berita ini sudah tersebar, saya telah menyampaikan ide differensiasi yang mungkin menjadi suatu cara tepat untuk bertahan dan bahkan bertumbuh menjadi besar dan sedang dalam proses:D mungkin banyak ide dan cara untuk bertahan, tapi secara pribadi, saya tidak setuju dengan sikap 'penolakan' yang pasti akan terjadi di Indonesia.
Mengapa saya tidak setuju?
Pertama saya percaya rejeki di tangan Tuhan (hehehe alasan terindah untuk dikatakan dan untuk melepas stres:p)
Kedua, ini berarti kami, Saya dan teman sejawat di seluruh Indonesia dipacu untuk mengembangkan diri, membuka wawasan dan berpikiran realita sehingga menyadari pentingnya pengembangan diri yang mumpuni sehingga memiliki kualitas yang luar biasa, dan tidak kalah dengan dokter/dokter gigi negara-negara ASEAN lainnya.
Indonesia tentunya merupakan lahan tersubur bagi siapapun yang dapat melihatnya dengan jelas, bahkan bagi pemilik modal investasi klinik, dokter gigi, dst.. dengan jumlah penduduk 220juta, tersebar dalam 33 (atau 32?:p) provinsi.. mereka yang telah memiliki sistem yang mumpuni dan teruji, tanpa ragu pasti akan masuk ke dalam kancah pe-dokter gigian Indonesia:D
Seperti saya pernah bahas sebelumnya, mungkin dokter gigi keluarga merupakan suatu sistem yang dapat mengokohkan dan meningkatkan, mendorong para praktisi berkembang dalam ilmu, ketrampilan, dan komunikasi efektif di masa depan yang tidak lama lagi ini. kenapa? karena dokter gigi keluarga dekat dengan masyarakat, dan masyarakat akan mencari dokter gigi yang memiliki kebudayaan yang mereka ketahui. Asalkan kemampuan profesional dan komunikasi, fasilitas, dan segala pengetahuan yang dimiliki dokter gigi luar negeri dapat diimbangi bahkan lebih lagi.
Konsep dan sistem kapitasi kemungkinan besar akan berkembang, maksudnya asuransi-asuransi yang meng-cover perawatan gigi pasti akan bertumbuhan.. dengan demikian pemerintah secara otomatis akan memberi bantuan dalam bentuk kapitasi ini, karena itu konsep pemeliharan kesehatan di indonesia akan dipusatkan kembali kepada Preventif/pencegahan dan promotif Kesehatan. Dan itu semakin menjadikan dokter gigi keluarga sangat diperlukan bukan?
Mungkin beberapa teman sejawat mulai merasa gelisah, maka saya akan mencoba meredakannya, hal itu semua terjadi pertama-tama kalau Indonesia setuju dan menandatangani perjanjian dalam hal 'dental practitioners' yang kedua, tenang saja untuk seorang dokter gigi dapat menghidupi diri dan keluarganya dengan berkelimpahan (alias kaya raya,cukup sandang,pangan,emas di tangan kaki, uang di bantal, jalan2 keliling eropa,bebas hutang,anak 3 masing2 dibeliin rumah:D) hanya perlu perbandingan 1:2000,berarti 1 dokter gigi perlu memilki pasien aktif sebanyak 2000. sedangkan di Indonesia (kalau tidak salah) perbandingannya adalah 1:22.000:)
Secara pribadi, saya mendukung konsep ini berjalan, karena saya tipe orang yang akan berkembang dengan persaingan dan tantangan, dan tidak hanya itu saja, dengan masuknya praktisi,sistem pelayanan medis, klinik gigi,investor dari negara-negara ASEAN berarti begitu berlimpah ilmu,pengetahuan, teknologi yang akan masuk dengan harga masuk akal, dan begitu berlimpah dokter gigi-dokter gigi dengan kemampuan mumpuni yang akan membagikan (share), membentuk,menyiapkan dokter gigi muda menjadi perpanjangan tangan,kaki,pengetahuan mereka (semoga demikian:D Amin)
Mungkin ini saatnya saya dan Anda tidak terlena..oh terlenaaa (hehehe ga tahan untuk joget dikitt...sambil angkat jari telunjuk dikit tentunya), sekarang saatnya Anda dan saya menjadi 'aware', bukan saja tentang perkembangan 'skill' dokter gigi tapi juga 'skill' komunikasi, manajemen, memiliki visi, cara memperluas realitas, berkolaborasi dengan praktisi-praktisi yang berbeda budaya dengan landasan sikap yang berjiwa besar.
Saya percaya bangsa Indonesia, khususnya para intelektual medis, termasuk dokter gigi, memiliki kerendahan hati dan kebesaran jiwa sehingga bukan sikap iri hati,keserakahan, takut bersaing yang akan kita tunjukkan tapi justru sebaliknya, kita terpacu untuk maju, berperan luas, percaya diri. Dan tentu saja peran serta pemerintah merupakan salah satu kunci keberhasilan proses ini, misalnya pelatihan dokter gigi keluarga gratis (ngarepp..hehehe), kebijakan2 di bidang pembiayaan pelayanan medis, fasilitas2 pendidikan dan pelatihan,dst.
Saya percaya daripada bertahun2 membiayai bidang rehabilitasi yang tidak akan pernah habisnya, lebih baik mulai memikirkan bagaimana kembali fokus pada usaha promosi dan preventif, dan itu berarti mulai lah dari uni terkecil, praktisi-praktisi nya sendiri. Apakah akan berhasil?
Itulah pekerjaan rumahnya, kami sebagai dokter gigi dan seberapa besar pemerintah lebihmemperhatikan rakyat sebagai pribadi tidak saja sebagai instrumen emosi politis (halah.. berat banget bahasanya:p)
Akhir kata..(akhirnya, Anda boleh menghembuskan nafas yang panjaang:D) inilah tantangan mutakhir, entah kita mau lari ataupun menghadapinya, pasti akan datang.. Saya belajar melalui sosok-sosok luar biasa dan mentor seperti drg.Gilang Y, dokter gigi2 lain yang telah dikenal dengan majunya visi dan luasnya persepsi mereka seperti drg.Robert H.Dharma, drg.Bernard I., dst
Mereka memaknai sukses sebagai 'perjalanan' mencapai, tidak akan pernah berhenti, tidak akan pernah puas, sehingga pada perjalanannya mereka selalu memberikan yang terbaik,berkomitmen, konsisten menjadi agen-agen sukses itu sendiri, untuk dinikmati dirinya dan banyak orang:D
Have great practice, Love you:)
Tahun 2009 merupakan momen bersejarah di banyak bidang kehidupan, terutama bagi bangsa-bangsa ASEAN, seperti negara-negara regional lainnya yang mulai menyadari pentingnya kerjasama dan menyatukan misi,visi bahkan persepsi, maka ASEAN mulai meresmikan berjalannya C-AFTA.
Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu bersama dengan mentreri ekonomi dari seluruh negara ASEAN menandatangani MRA (Mutual Recognition Arrangement) (NB: tolong jangan tanya artinya, saya juga ngga mengerti sekali), yang berlaku mulai 1 Januari 2010. Intinya ada 3 kesepakatan kerjasama saling menguntungkan ini yaitu: MRA Framework on Accountancy Services, MRA on Medical Practitioners, MRA on Dental Practitioners, sebelumnya ada MRA on Engineering services (2005),nursing services (2006), Architectural services,surveying services(2007). Kalau yang membaca surat kabar baru2 ini, Negara-negara ASEAN sudah menjalankan slah satu dari 3 kesepakatan terbaru, yaitu barang2 ekspor/impor yang sudah dinyatakan 'luulus' satu negara ASEAN, artinya lulus di negara2 ASEAN lainnya.
Intinya MRA (mutual Recognition Arrangement) ini kesepakatan saling pengakuan terhadap produk,jasa tertentu anatara dua atau beberapa negara untuk mempermudah kegiatan perdagangan,kualitas pendidikan, profesional,dst. sehingga negara dapa memperoleh pengurangan biaya (pengecekan kualitas, pendidikan,dsb), kepastian akses pasar, peningkatan daya saing,dst)
Nah, apakah implikasinya bagi dokter gigi (dan dokter umum)? Mungkin yang bagi belum menyadari, itu artinya dokter/dokter gigi dari satu negara ASEAN dapat berperan menjadi praktisi di setiap negara ASEAN lain yang bekerjasama. memang ada syarat2nya seperti harus mendafgtarkan diri pada Proffesional Dental Regulatory Autority, Mengikuti program pengembangan keprofesian,dst., setelah itu dokter gigi dapat berpraktek paling lama 5 tahun di negara lain.
Sebenarnya saya bertanya-tanya, berapa persen kah dari semua profesional medis yang setuju dengan bentuk kerjasama yang 'mengasyikkan' ini?
Sebelumnya saya telah menulis artikel tidak resmi yang mengatakan, bahwa era globalisasi, AFTA jelas akan berpengaruh terhadap kegiatan profesional medis, dan saya mengatakan mungkin dalam 2 tahun, ternyata tidak sampai 1 tahun berita ini sudah tersebar, saya telah menyampaikan ide differensiasi yang mungkin menjadi suatu cara tepat untuk bertahan dan bahkan bertumbuh menjadi besar dan sedang dalam proses:D mungkin banyak ide dan cara untuk bertahan, tapi secara pribadi, saya tidak setuju dengan sikap 'penolakan' yang pasti akan terjadi di Indonesia.
Mengapa saya tidak setuju?
Pertama saya percaya rejeki di tangan Tuhan (hehehe alasan terindah untuk dikatakan dan untuk melepas stres:p)
Kedua, ini berarti kami, Saya dan teman sejawat di seluruh Indonesia dipacu untuk mengembangkan diri, membuka wawasan dan berpikiran realita sehingga menyadari pentingnya pengembangan diri yang mumpuni sehingga memiliki kualitas yang luar biasa, dan tidak kalah dengan dokter/dokter gigi negara-negara ASEAN lainnya.
Indonesia tentunya merupakan lahan tersubur bagi siapapun yang dapat melihatnya dengan jelas, bahkan bagi pemilik modal investasi klinik, dokter gigi, dst.. dengan jumlah penduduk 220juta, tersebar dalam 33 (atau 32?:p) provinsi.. mereka yang telah memiliki sistem yang mumpuni dan teruji, tanpa ragu pasti akan masuk ke dalam kancah pe-dokter gigian Indonesia:D
Seperti saya pernah bahas sebelumnya, mungkin dokter gigi keluarga merupakan suatu sistem yang dapat mengokohkan dan meningkatkan, mendorong para praktisi berkembang dalam ilmu, ketrampilan, dan komunikasi efektif di masa depan yang tidak lama lagi ini. kenapa? karena dokter gigi keluarga dekat dengan masyarakat, dan masyarakat akan mencari dokter gigi yang memiliki kebudayaan yang mereka ketahui. Asalkan kemampuan profesional dan komunikasi, fasilitas, dan segala pengetahuan yang dimiliki dokter gigi luar negeri dapat diimbangi bahkan lebih lagi.
Konsep dan sistem kapitasi kemungkinan besar akan berkembang, maksudnya asuransi-asuransi yang meng-cover perawatan gigi pasti akan bertumbuhan.. dengan demikian pemerintah secara otomatis akan memberi bantuan dalam bentuk kapitasi ini, karena itu konsep pemeliharan kesehatan di indonesia akan dipusatkan kembali kepada Preventif/pencegahan dan promotif Kesehatan. Dan itu semakin menjadikan dokter gigi keluarga sangat diperlukan bukan?
Mungkin beberapa teman sejawat mulai merasa gelisah, maka saya akan mencoba meredakannya, hal itu semua terjadi pertama-tama kalau Indonesia setuju dan menandatangani perjanjian dalam hal 'dental practitioners' yang kedua, tenang saja untuk seorang dokter gigi dapat menghidupi diri dan keluarganya dengan berkelimpahan (alias kaya raya,cukup sandang,pangan,emas di tangan kaki, uang di bantal, jalan2 keliling eropa,bebas hutang,anak 3 masing2 dibeliin rumah:D) hanya perlu perbandingan 1:2000,berarti 1 dokter gigi perlu memilki pasien aktif sebanyak 2000. sedangkan di Indonesia (kalau tidak salah) perbandingannya adalah 1:22.000:)
Secara pribadi, saya mendukung konsep ini berjalan, karena saya tipe orang yang akan berkembang dengan persaingan dan tantangan, dan tidak hanya itu saja, dengan masuknya praktisi,sistem pelayanan medis, klinik gigi,investor dari negara-negara ASEAN berarti begitu berlimpah ilmu,pengetahuan, teknologi yang akan masuk dengan harga masuk akal, dan begitu berlimpah dokter gigi-dokter gigi dengan kemampuan mumpuni yang akan membagikan (share), membentuk,menyiapkan dokter gigi muda menjadi perpanjangan tangan,kaki,pengetahuan mereka (semoga demikian:D Amin)
Mungkin ini saatnya saya dan Anda tidak terlena..oh terlenaaa (hehehe ga tahan untuk joget dikitt...sambil angkat jari telunjuk dikit tentunya), sekarang saatnya Anda dan saya menjadi 'aware', bukan saja tentang perkembangan 'skill' dokter gigi tapi juga 'skill' komunikasi, manajemen, memiliki visi, cara memperluas realitas, berkolaborasi dengan praktisi-praktisi yang berbeda budaya dengan landasan sikap yang berjiwa besar.
Saya percaya bangsa Indonesia, khususnya para intelektual medis, termasuk dokter gigi, memiliki kerendahan hati dan kebesaran jiwa sehingga bukan sikap iri hati,keserakahan, takut bersaing yang akan kita tunjukkan tapi justru sebaliknya, kita terpacu untuk maju, berperan luas, percaya diri. Dan tentu saja peran serta pemerintah merupakan salah satu kunci keberhasilan proses ini, misalnya pelatihan dokter gigi keluarga gratis (ngarepp..hehehe), kebijakan2 di bidang pembiayaan pelayanan medis, fasilitas2 pendidikan dan pelatihan,dst.
Saya percaya daripada bertahun2 membiayai bidang rehabilitasi yang tidak akan pernah habisnya, lebih baik mulai memikirkan bagaimana kembali fokus pada usaha promosi dan preventif, dan itu berarti mulai lah dari uni terkecil, praktisi-praktisi nya sendiri. Apakah akan berhasil?
Itulah pekerjaan rumahnya, kami sebagai dokter gigi dan seberapa besar pemerintah lebihmemperhatikan rakyat sebagai pribadi tidak saja sebagai instrumen emosi politis (halah.. berat banget bahasanya:p)
Akhir kata..(akhirnya, Anda boleh menghembuskan nafas yang panjaang:D) inilah tantangan mutakhir, entah kita mau lari ataupun menghadapinya, pasti akan datang.. Saya belajar melalui sosok-sosok luar biasa dan mentor seperti drg.Gilang Y, dokter gigi2 lain yang telah dikenal dengan majunya visi dan luasnya persepsi mereka seperti drg.Robert H.Dharma, drg.Bernard I., dst
Mereka memaknai sukses sebagai 'perjalanan' mencapai, tidak akan pernah berhenti, tidak akan pernah puas, sehingga pada perjalanannya mereka selalu memberikan yang terbaik,berkomitmen, konsisten menjadi agen-agen sukses itu sendiri, untuk dinikmati dirinya dan banyak orang:D
Have great practice, Love you:)
Monday, March 22, 2010
When should I first bring my lovely child to the dentist?
a child first be seen by a dentist when the first baby tooth erupts, or by the age of one year. At this visit, the parent holds the child on his or her knee while the dentist sits facing the parent knee to knee. While the child will not yet have all of his or her baby teeth in place by the age of one, a visual inspection allows the dentist to assess for the beginning of early childhood decay (nursing bottle caries) and to council the parents on any obvious problems that appear to be developing. Most childhood falls that result in injuries to the teeth happen between the ages of two and three, while the child is learning to coordinate his movements. In an emergency, parents are very glad to have the telephone number of a sympathetic doctor who already knows their baby.
Should the parent accompany the child into the operatory
The answer we learned in dental school was NO!! Children always behave better without the parent in sight.
The real answer to this question is: It depends entirely on the child (and the parents).
I have found that in a majority of cases, children do perfectly well with parents in the dentist's room, except in particular cases and the ones in which the parents are best asked to leave for the waiting room.
The behavior of children in the dental treatment depends on the child's trust in his/her parents, dentist and his or her willingness to surrender control over his own body, even at the expense of minor pain, to an adult he does not know. Trust is a quality learned at home, on the playground and at school. Children who have learned that adults trusted by their parents are adults to be trusted by them are more likely to have better experiences at the office than those who have learned to distrust adults in general. Children who have been trained to expect adults to make good decisions on their behalf are more likely to have better experiences than those who tend to make all their own decisions at home.
Their inability to affect the dentist's behavior in the same way they do their parents scares them, and the "bad experience" escalates from there. If a parent of one of these children is in the operatory, the child plays to the parent and the behavior only gets worse.
The child's behavior is the variable that cannot be controlled by the dentist directly. It depends upon the factors discussed above, as well as things such as how much sleep the child got last night, the time of day of the appointment (mornings are always best), recent events in the child's life, and the horror stories told to the child by his friends, siblings, and even his parents.
A am pretty sure that mostly dentists experience these major issues, kids' behavior in dental room are sometimes interesting and irrational, I found several kids who even didn't let me see their teeth and they had never come to any dentist for any treatment.. it usually need a while to get their trust and their parents supports:)
Should I bring my child to a children's specialist?
While I, as a general dentist, treat a vast majority of children who come to my office, I never treat a truly uncooperative child. I never restrain a child. If he won't let me do my job, I refer him to a pedodontist (a specialist who deals with children's dentistry exclusively). they must spend a lot of time doing "behavior modification", they can charge for the service, something which as a general dentist I cannot do and justify:)
Pedodontists have special training in dealing with children's dental problems, not just their behavior. They are better equipped to perform simple interceptive orthodontic procedures on children without referral to an orthodontist. General dentists refer patients to them all the time for problems peculiar to children, such as developmental difficulties and root canals on adult teeth that have not fully formed.
There are three very good reasons that baby teeth are just as important as adult teeth, and must be just as well protected from disease.
1.Children need their teeth as much as you do to chew and smile. If the teeth are allowed to become decayed, that child will suffer pain and an inability to eat properly which can lead to lifelong eating disorders, or at minimum poor nutrition for the time during which the child is unable to eat properly. Children have social lives too, and the stigma of blackened stumps and bad breath can lead to derision (serious teasing) at school and at play, and could effect the child's social development.
2.Bad baby teeth usually mean frequent visits to the dentist under very poor circumstances. The child has not slept well, he is in a bad mood, and the dentist is the last person he really wants to see. In addition, by the time they are seen, the dentist must usually remove the tooth, which is what the parents expect anyway. So his visits always amount to painful episodes from which he emerges missing a piece of his body! This sets the stage for not only bad behavior on succeeding dental visits, but for a person with a lifelong fear of dentists who will probably end up with dentures.
3. Finally, baby teeth are essential for holding the spaces open so that the adult teeth can come into the correct position when they are finally developed enough to erupt ("erupt" means to come through the gums for the first time). If certain of the baby teeth are removed before nature intended, the adult teeth that develop earliest will move into inappropriate positions crowding out the space necessary for the eruption of other adult teeth which develop at a later date. This can lead to not only crooked teeth, but to real functional problems as well. These involve chewing difficulties, TMJ problems, and pronounced facial asymmetries (this means that one side of the face develops more than the other side due to the differences in the way that the muscles on either side are used in chewing and grinding the teeth.)
A person gets two sets of teeth at different stages of life for very good reasons. The adult version will not fit into a baby's mouth, yet that child must still be able to chew food. So while nature gave children a temporary set of teeth in order to fill a space that would otherwise have to remain vacant until age 12, she thought she might give them some extra work to do as well.
At what age should my baby's teeth first erupt? ("erupt" means to "appear in the mouth".)
The baby teeth begin to erupt at about age 6 months and continue until about age 24 months at which time all 20 of the baby teeth should be in place. In general, the teeth erupt from the front to the back, and the lowers come in about 2 to 6 months before the corresponding top teeth. If your child is late, don't worry. They may finish as much as a year behind schedule. If your child is missing one or more baby teeth, it does NOT necessarily mean that she will be missing the corresponding adult teeth.
At what age should my child's adult teeth erupt?
You should begin to see your child's first adult teeth even before they lose their first baby teeth, at about age 6. At about the same time the lower baby central incisors will loosen and fall out to allow the adult central incisors to erupt. All the baby teeth should be gone, or the remaining ones lose by age 12. The adult teeth that are forming under them will continue to erupt through age 17 or 18 when the wisdom teeth finally are supposed to erupt. I say "supposed to" because many times they remain impacted and must be extracted. This eruption schedule is not set in fixed-order. Some kids are just late in growth and may be a year late in their eruption schedule.
(adapted from http://www.doctorspiller.com/Children%27s%20Dentistry.htm)
Should the parent accompany the child into the operatory
The answer we learned in dental school was NO!! Children always behave better without the parent in sight.
The real answer to this question is: It depends entirely on the child (and the parents).
I have found that in a majority of cases, children do perfectly well with parents in the dentist's room, except in particular cases and the ones in which the parents are best asked to leave for the waiting room.
The behavior of children in the dental treatment depends on the child's trust in his/her parents, dentist and his or her willingness to surrender control over his own body, even at the expense of minor pain, to an adult he does not know. Trust is a quality learned at home, on the playground and at school. Children who have learned that adults trusted by their parents are adults to be trusted by them are more likely to have better experiences at the office than those who have learned to distrust adults in general. Children who have been trained to expect adults to make good decisions on their behalf are more likely to have better experiences than those who tend to make all their own decisions at home.
Their inability to affect the dentist's behavior in the same way they do their parents scares them, and the "bad experience" escalates from there. If a parent of one of these children is in the operatory, the child plays to the parent and the behavior only gets worse.
The child's behavior is the variable that cannot be controlled by the dentist directly. It depends upon the factors discussed above, as well as things such as how much sleep the child got last night, the time of day of the appointment (mornings are always best), recent events in the child's life, and the horror stories told to the child by his friends, siblings, and even his parents.
A am pretty sure that mostly dentists experience these major issues, kids' behavior in dental room are sometimes interesting and irrational, I found several kids who even didn't let me see their teeth and they had never come to any dentist for any treatment.. it usually need a while to get their trust and their parents supports:)
Should I bring my child to a children's specialist?
While I, as a general dentist, treat a vast majority of children who come to my office, I never treat a truly uncooperative child. I never restrain a child. If he won't let me do my job, I refer him to a pedodontist (a specialist who deals with children's dentistry exclusively). they must spend a lot of time doing "behavior modification", they can charge for the service, something which as a general dentist I cannot do and justify:)
Pedodontists have special training in dealing with children's dental problems, not just their behavior. They are better equipped to perform simple interceptive orthodontic procedures on children without referral to an orthodontist. General dentists refer patients to them all the time for problems peculiar to children, such as developmental difficulties and root canals on adult teeth that have not fully formed.
There are three very good reasons that baby teeth are just as important as adult teeth, and must be just as well protected from disease.
1.Children need their teeth as much as you do to chew and smile. If the teeth are allowed to become decayed, that child will suffer pain and an inability to eat properly which can lead to lifelong eating disorders, or at minimum poor nutrition for the time during which the child is unable to eat properly. Children have social lives too, and the stigma of blackened stumps and bad breath can lead to derision (serious teasing) at school and at play, and could effect the child's social development.
2.Bad baby teeth usually mean frequent visits to the dentist under very poor circumstances. The child has not slept well, he is in a bad mood, and the dentist is the last person he really wants to see. In addition, by the time they are seen, the dentist must usually remove the tooth, which is what the parents expect anyway. So his visits always amount to painful episodes from which he emerges missing a piece of his body! This sets the stage for not only bad behavior on succeeding dental visits, but for a person with a lifelong fear of dentists who will probably end up with dentures.
3. Finally, baby teeth are essential for holding the spaces open so that the adult teeth can come into the correct position when they are finally developed enough to erupt ("erupt" means to come through the gums for the first time). If certain of the baby teeth are removed before nature intended, the adult teeth that develop earliest will move into inappropriate positions crowding out the space necessary for the eruption of other adult teeth which develop at a later date. This can lead to not only crooked teeth, but to real functional problems as well. These involve chewing difficulties, TMJ problems, and pronounced facial asymmetries (this means that one side of the face develops more than the other side due to the differences in the way that the muscles on either side are used in chewing and grinding the teeth.)
A person gets two sets of teeth at different stages of life for very good reasons. The adult version will not fit into a baby's mouth, yet that child must still be able to chew food. So while nature gave children a temporary set of teeth in order to fill a space that would otherwise have to remain vacant until age 12, she thought she might give them some extra work to do as well.
At what age should my baby's teeth first erupt? ("erupt" means to "appear in the mouth".)
The baby teeth begin to erupt at about age 6 months and continue until about age 24 months at which time all 20 of the baby teeth should be in place. In general, the teeth erupt from the front to the back, and the lowers come in about 2 to 6 months before the corresponding top teeth. If your child is late, don't worry. They may finish as much as a year behind schedule. If your child is missing one or more baby teeth, it does NOT necessarily mean that she will be missing the corresponding adult teeth.
At what age should my child's adult teeth erupt?
You should begin to see your child's first adult teeth even before they lose their first baby teeth, at about age 6. At about the same time the lower baby central incisors will loosen and fall out to allow the adult central incisors to erupt. All the baby teeth should be gone, or the remaining ones lose by age 12. The adult teeth that are forming under them will continue to erupt through age 17 or 18 when the wisdom teeth finally are supposed to erupt. I say "supposed to" because many times they remain impacted and must be extracted. This eruption schedule is not set in fixed-order. Some kids are just late in growth and may be a year late in their eruption schedule.
(adapted from http://www.doctorspiller.com/Children%27s%20Dentistry.htm)
Friday, March 12, 2010
sekilas dokter gigi keluarga?
Dokter gigi keluarga peluang masa depan E-mail
Dokter gigi keluarga membantu mengubah paradigma sakit menjadi paradigma sehat.
Penanganan pelayanan kesehatan gigi dan mulut saat ini umumnya masih cenderung pada penyakit gigi, belum bersifat komprehansif serta holistik. Pemberi pelayanan cenderung pasif, hanya menerima dan mengobati penderita yang datang berobat. Upaya-upaya promotif-preventif masih kurang diperhatikan. Sebernanya "paradigma Sehat" yang sedang digalakkan pemerintah mengutamakan upaya pemeliharaan, peningkatan dan perlindungan kesehatan. Klien (ataupasien) diposisikan sebagai subyek utama yang berperan, tidak semata-mata sebagai obyek eliminasi penyakit dan kecacatan.
Pendekatan pelayanan kedokteran gigi keluarga dapat mempercepat peningkatan derajat kesehatan gigi mulut. Langkah-Langkah persepian mulai dilakukan Depkes dan PDGI dalam Rakernas PDGI pada tahun 1999 di Bandung. Kongres PDGI tahun 2001 di Solo menghasilkan konsep dokter gigi keluarga, yang kemudian dilanjutkan dalam kongres PDGI XII tahun 2005 di Makassar tentang pelayanan Kedokteran Gigi keluarga.
Dengan bantuan dan masukkan serta konstrbusi semua pihak maka pada tahun2005 telah disusun dan dikeluarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1415/Menkes/SK/X/2005 tentang Kebijakan pelayanan Kedokteran Gigi Keluarga.
Pengertian Pelayanan kedokteran Gigi Keluarga adalah suatu upaya kesehatan perorangan dalam kesehatan gigi dan mulut secara paripurna yang memusatkan layananya kepada setiap individu dalam suatu keluarga.
Peran dan fungsi Dokter Gigi Keluarga (DGK)
Dokter Gigi Keluarga (DGK) berperan sebagai unsur profesi kedokteran gigi yang menggalang peran serta masyarakat menjaga dan memelihara kesehatan gigi dan mulut. Dalam Menjalakan peran ini DGK juga melakukan beberapa fungsi :
1. Ujung tombak pemberi pelayanan dan asuhan keluarga serta sebagai penapis rujukan upaya kesehatan gigi mulut.
2. Sumber informasi, edukasi dan advokasi dalam pemeliharaan kesehatn gigi dan mulut.
3. Perlindungan resiko terjadinya masalh kesehatan gigi dan mulut.
4. Meningkatkan kualitas hidup anggota keluarga sesuai siklus hidup dan.
5. Penghematan biaya kesehatan.
Berdasarkan pengertian, peran dan fungsi DGK tersebut maka disusunlah prinsip pelayanan DGK yang meliputi:
1. Memberi pelayanan secara profesional dan etis dilandasi kebutuhan seluh anggota keluarga perlu adanya pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut secara menyeluruh yang direkam dalam Kartu Medik Gigi.
2. Memandang individu baik yang sakit maupun sehat sebagai bagian dari unit keluarga dan komunitasnya.
3. Bidang garapan (menurut fase siklus hidup), mulai dari janin sampai lansia.
4. Pendekatan terpadu, holistik/menyeluruh dan berkesinambungan.
5. Mengetumakan promotif-preventif terseleksi.
6. Manajemen efesiensi, efektif biaya dan penjagaan mutu.
Pembiayaan pada pelayanan DGK dikelola secara efisien, adil, berkelanjutan, transparan dan akuntable. Dalam penyelenggaraan pelayanan, kepesertaan yang menjadi tanggung jawabnya terlindungi dalam satu sistem jaminan, sehingga kebutuhan dasar kesehatannya terpenuhi, mutu dan biayanya pun terkendali. Disamping itu, jaminan kesehatan ini juga akan meningkatkan kemandirian masyarakat dalam memperoleh dan membiayai pemeliharaan kesehatan serta pembentukan budaya perilaku hidup sehat.
Pembayaran pra-upaya dalam sistem jaminan kesehatan diterima dari badan penyelanggara Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (PJK). Pemberi pelayanan Kesehatan (PPK), dalam hal ini DGK, HArus menekankan upaya promotif-preventif, sementara upaya kuratif dan rehabilitatif di berikan sesuai dengan kebutuhan.
Kompetensi Dokter Gigi dan DGK
Saat ini dirasakan masih ada tumpang tindih antara kompetensi dokter gigi dan DGK. Perbedaannya adalah pada pendalaman. Spesifikasi kompetensi DGK adalah :
1. Diet dan konseling
2. Manajemen resiko berbasis keluarga
3. Perencanaan pembiayaan kesehatan gigi dan mulut keluarga
4. Analisis efektif biaya
5. Manajemen perilaku berbasis dinamika keluarga
6. Manajemen data berbasis rekam medik keluarga
7. Surveillance epidemiology berbasis keluarga, serta
8. Pengendalian mutu pelayanan kesehatan gig dan mulut keluarga
Kompetensi tersebut dapat diperoleh melalaui pelatiahn DGK paket A, B, C dan D. Paket A dan B menitikberatkan pada kompetensi manajerial DGK, sementara paket C dan D lebih pada kompetensi medis teknis.
Pelayanan Kedokteran Gigi Kelurga adalah peluang masa depan bagi masyarakat untuk memperoleh pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang optimal, bermutu, terstruktur dan berkesinambungan. Selain itu, bagi dokter gigi itu sendiri DGK menciptakan peluang untuk meningkatkan profesionalisme dalam mengemban tugas mulia profesi.
Visi : Kemandirian keluarga mencapai derajat kesehatan gigi dan mulut setinggi-tingginya melalui pelayanan DGK secara efisien, efektif, adil, merata dan bermutu.
Misi :
1. Memberdayakankeluarga dalam menjaga dan memelihara kesehatan gigi dan mulut.
2. Mengupayakan tersedianya pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang merata, bermutu dan terjangkau bagi keluarga.
3. Memberikan pelayanan, asuhan dan perlindungan kesehatan gigi dan mulut untuk keluarga.
4. Meningkatkan profesionalisme kedokteran gigi dalam mengemban peran, tugas dan fungsi dokter gigi.
5. Meningkatkan kemitraan dengan profesi, institusi, pendidikan dan pihak terkait.
6. Tertatanya pembiayaan kesehatan gigi dan mulut.
Dokter Gigi Keluarga (DGK) adalah dokter gig yang :
1. Memberikan pelayanan kesehatan gigi-mulut dan asuhan berorientasi masyarakat melalui unit keluarga, berfungsi sebagai kontak pertama (Gate Keeper)
2. Lingkup garapannya sehat dan sakit
3. Melaksanakan pelayanan kesehatan gigi dan mulut menyeluruh, mengutamakan promotif-preventif
4. Bekerja proaktif, berbasis faktor risiko dan rujukan
5. Menjaga kesinambungan dan holistik
6. bertanggung jawab menjaga dan memelihara kesehatan gigi dan mulut keluarga binaannya
7. Menerapkan IPTEKDOKGI yang benar dan sesuai
8. Memperhatikan kendali mutu dan biaya
Nb: saya memiliki Manajemen perhitungan unit cost dalam rangka sistem kapitasi untuk dokter gigi keluarga, yang berminat, boleh menghubungi. tapi terbatas yaa:) terimakasih..
(sumber: PDGI-online: http://www.pdgi-online.com/v2/index.php?option=com_content&task=view&id=759&Itemid=39)
Dokter gigi keluarga membantu mengubah paradigma sakit menjadi paradigma sehat.
Penanganan pelayanan kesehatan gigi dan mulut saat ini umumnya masih cenderung pada penyakit gigi, belum bersifat komprehansif serta holistik. Pemberi pelayanan cenderung pasif, hanya menerima dan mengobati penderita yang datang berobat. Upaya-upaya promotif-preventif masih kurang diperhatikan. Sebernanya "paradigma Sehat" yang sedang digalakkan pemerintah mengutamakan upaya pemeliharaan, peningkatan dan perlindungan kesehatan. Klien (ataupasien) diposisikan sebagai subyek utama yang berperan, tidak semata-mata sebagai obyek eliminasi penyakit dan kecacatan.
Pendekatan pelayanan kedokteran gigi keluarga dapat mempercepat peningkatan derajat kesehatan gigi mulut. Langkah-Langkah persepian mulai dilakukan Depkes dan PDGI dalam Rakernas PDGI pada tahun 1999 di Bandung. Kongres PDGI tahun 2001 di Solo menghasilkan konsep dokter gigi keluarga, yang kemudian dilanjutkan dalam kongres PDGI XII tahun 2005 di Makassar tentang pelayanan Kedokteran Gigi keluarga.
Dengan bantuan dan masukkan serta konstrbusi semua pihak maka pada tahun2005 telah disusun dan dikeluarkan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor 1415/Menkes/SK/X/2005 tentang Kebijakan pelayanan Kedokteran Gigi Keluarga.
Pengertian Pelayanan kedokteran Gigi Keluarga adalah suatu upaya kesehatan perorangan dalam kesehatan gigi dan mulut secara paripurna yang memusatkan layananya kepada setiap individu dalam suatu keluarga.
Peran dan fungsi Dokter Gigi Keluarga (DGK)
Dokter Gigi Keluarga (DGK) berperan sebagai unsur profesi kedokteran gigi yang menggalang peran serta masyarakat menjaga dan memelihara kesehatan gigi dan mulut. Dalam Menjalakan peran ini DGK juga melakukan beberapa fungsi :
1. Ujung tombak pemberi pelayanan dan asuhan keluarga serta sebagai penapis rujukan upaya kesehatan gigi mulut.
2. Sumber informasi, edukasi dan advokasi dalam pemeliharaan kesehatn gigi dan mulut.
3. Perlindungan resiko terjadinya masalh kesehatan gigi dan mulut.
4. Meningkatkan kualitas hidup anggota keluarga sesuai siklus hidup dan.
5. Penghematan biaya kesehatan.
Berdasarkan pengertian, peran dan fungsi DGK tersebut maka disusunlah prinsip pelayanan DGK yang meliputi:
1. Memberi pelayanan secara profesional dan etis dilandasi kebutuhan seluh anggota keluarga perlu adanya pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut secara menyeluruh yang direkam dalam Kartu Medik Gigi.
2. Memandang individu baik yang sakit maupun sehat sebagai bagian dari unit keluarga dan komunitasnya.
3. Bidang garapan (menurut fase siklus hidup), mulai dari janin sampai lansia.
4. Pendekatan terpadu, holistik/menyeluruh dan berkesinambungan.
5. Mengetumakan promotif-preventif terseleksi.
6. Manajemen efesiensi, efektif biaya dan penjagaan mutu.
Pembiayaan pada pelayanan DGK dikelola secara efisien, adil, berkelanjutan, transparan dan akuntable. Dalam penyelenggaraan pelayanan, kepesertaan yang menjadi tanggung jawabnya terlindungi dalam satu sistem jaminan, sehingga kebutuhan dasar kesehatannya terpenuhi, mutu dan biayanya pun terkendali. Disamping itu, jaminan kesehatan ini juga akan meningkatkan kemandirian masyarakat dalam memperoleh dan membiayai pemeliharaan kesehatan serta pembentukan budaya perilaku hidup sehat.
Pembayaran pra-upaya dalam sistem jaminan kesehatan diterima dari badan penyelanggara Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (PJK). Pemberi pelayanan Kesehatan (PPK), dalam hal ini DGK, HArus menekankan upaya promotif-preventif, sementara upaya kuratif dan rehabilitatif di berikan sesuai dengan kebutuhan.
Kompetensi Dokter Gigi dan DGK
Saat ini dirasakan masih ada tumpang tindih antara kompetensi dokter gigi dan DGK. Perbedaannya adalah pada pendalaman. Spesifikasi kompetensi DGK adalah :
1. Diet dan konseling
2. Manajemen resiko berbasis keluarga
3. Perencanaan pembiayaan kesehatan gigi dan mulut keluarga
4. Analisis efektif biaya
5. Manajemen perilaku berbasis dinamika keluarga
6. Manajemen data berbasis rekam medik keluarga
7. Surveillance epidemiology berbasis keluarga, serta
8. Pengendalian mutu pelayanan kesehatan gig dan mulut keluarga
Kompetensi tersebut dapat diperoleh melalaui pelatiahn DGK paket A, B, C dan D. Paket A dan B menitikberatkan pada kompetensi manajerial DGK, sementara paket C dan D lebih pada kompetensi medis teknis.
Pelayanan Kedokteran Gigi Kelurga adalah peluang masa depan bagi masyarakat untuk memperoleh pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang optimal, bermutu, terstruktur dan berkesinambungan. Selain itu, bagi dokter gigi itu sendiri DGK menciptakan peluang untuk meningkatkan profesionalisme dalam mengemban tugas mulia profesi.
Visi : Kemandirian keluarga mencapai derajat kesehatan gigi dan mulut setinggi-tingginya melalui pelayanan DGK secara efisien, efektif, adil, merata dan bermutu.
Misi :
1. Memberdayakankeluarga dalam menjaga dan memelihara kesehatan gigi dan mulut.
2. Mengupayakan tersedianya pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang merata, bermutu dan terjangkau bagi keluarga.
3. Memberikan pelayanan, asuhan dan perlindungan kesehatan gigi dan mulut untuk keluarga.
4. Meningkatkan profesionalisme kedokteran gigi dalam mengemban peran, tugas dan fungsi dokter gigi.
5. Meningkatkan kemitraan dengan profesi, institusi, pendidikan dan pihak terkait.
6. Tertatanya pembiayaan kesehatan gigi dan mulut.
Dokter Gigi Keluarga (DGK) adalah dokter gig yang :
1. Memberikan pelayanan kesehatan gigi-mulut dan asuhan berorientasi masyarakat melalui unit keluarga, berfungsi sebagai kontak pertama (Gate Keeper)
2. Lingkup garapannya sehat dan sakit
3. Melaksanakan pelayanan kesehatan gigi dan mulut menyeluruh, mengutamakan promotif-preventif
4. Bekerja proaktif, berbasis faktor risiko dan rujukan
5. Menjaga kesinambungan dan holistik
6. bertanggung jawab menjaga dan memelihara kesehatan gigi dan mulut keluarga binaannya
7. Menerapkan IPTEKDOKGI yang benar dan sesuai
8. Memperhatikan kendali mutu dan biaya
Nb: saya memiliki Manajemen perhitungan unit cost dalam rangka sistem kapitasi untuk dokter gigi keluarga, yang berminat, boleh menghubungi. tapi terbatas yaa:) terimakasih..
(sumber: PDGI-online: http://www.pdgi-online.com/v2/index.php?option=com_content&task=view&id=759&Itemid=39)
Subscribe to:
Posts (Atom)